renungan

 

Kenapa aku harus menangisi nasibku sendiri.. Kenapa aku mesti meratapi kepayahanku sendiri, dan apakah kemudian aku akhirnya harus kalah dan menyerah pada langkahku sendiri..??

Saat ini aku seperti sedang dibekap oleh jemariku sendiri, langkahku seakan tersandung tapakku sendiri.. Apakah aku harus berteriak, memarahi pikiranku sendiri.??

Tuhan, apakah aku salah dalam melangkah? Sehingga aku terperangkap dalam ruang gelap yang ku tempati saat ini? Aku sudah berusaha meraba dengan jemariku, mencari lilin untuk dapat kunyalakan. Tapi tak juga ku temukan. Ini membuatku seakan buta, rasanya sangat gelap..

Tuhan tunjukkan bagiku jalan, tunjukkan dimana ada cahaya yang dapat ku ambil sebagai penerang ruang gelapku saat ini..

renungan

Iklan

never giveup

 

Saat masih menjadi anak-anak, kita berharap bisa cepat tumbuh menjadi besar dan dewasa. Namun ketika sudah dewasa, nyatanya hidup tidak menjadi lebih mudah.Justru semakin kompleks dengan permasalahan.

Ibarat kendaraan, semakin besar ukurannya, semakin besar pula daya tampungnya, makin berat beban yang mesti dibawa juga butuh jalan yang lebih lebar untuk berjalan. Begitu juga dengan pohon. Semakin besar dan tinggi pohon, ia membutuhkan akar yang lebih kokoh untuk menopang batangnya dari terpaan angin.

Ya, inilah hidup. Sebuah realita perjalanan manusia yang harus dilewati dengan perjuangan. Sungguh tidak mudah. Terkadang harus melaluinya dengan tertatih-tatih. Tapi, begitu kita berfikir hidup itu terasa begitu rumit bahkan memusingkan, lebih baik, berhentilah menganalisa hidup itu. Jalani saja apa yang ada.

Kalaupun mengalami sebuah kegagalan, anggaplah itu sebagai pembelajaran sekaligus penyadar bahwa kita adalah orang yang belum siap dan masih butuh belajar lagi. Tak perlu mengkhawatirkan hidup, justru analisa-analisa yang kita buat sendirilah yang menciptakan kekhawatiran dan rasa pesimistis.

Musuh terbesar bukanlah siapa-siapa, melainkan keyakinan sendiri. Jika pikiran kita mengangankan sebuah kesuksesan, maka mekanisme kerja alam bawah sadar kita akan bekerja memproses itu menjadi jalan menuju kesuksesan. Sebaliknya jika pikiran kita dipenuhi bayangan kekhawatiran dan keraguan, maka otomatis mekanisme alam bawah sadar kita akan mengolah itu menjadi kegagalan yang sesungguhnya.

Memang, ada kalanya, kita berada pada sebuah kondisi lemah, dimana keraguan, kekhawatiran akan sesuatu yang sebenarnya belum terjadi, mampu menguasai mental dan mencengkram urat semangat, lantas membuat kita seakan tersungkur tanpa daya.

Dalam situasi seperti itu, tidak ada pilihan yang dapat dilakukan kecuali bangkit dan melawan keraguan. Kita jangan membiarkan kondisi itu terus mendesak dan menguasai alam pikir kita. Kita tak boleh kalah,apalagi sampai menyerah pada keputusasaan.

Banyak orang yang lebih mempercayai orang lain ketimbang dirinya sendiri. Bahkan menagungkan keberadaan orang lain dari pada keberadaannya sendiri. Padahal, keyakinan akan kemampuan yang kita miliki sama halnya dengan kita meyakini kekuatan Tuhan. Karena Tuhan yang yang menciptakan jasmani dan memberikan ruh pada diri kita sekaligus memelihara dan menjaganya. Mungkin itu yang membuatku sampai saat ini masih bisa bertahan pada keyakinan akan hari esok, dan masa depan.

Kita boleh saja menangis sebagai pelepasan kemelut pikiran, tapi tidak harus meratap terus menerus sehingga dapat mengikis keimanan dan menyeret kita pada keputusasaan.

Ingatlah, sebatang besi tak akan dapat menarik besi lain, walapun ukuran dan bebannya lebih ringan darinya, jika besi tersebut tidak diberi daya magnet. Raga tak akan dapat hidup tanpa nyawa. Kaki tak akan dapat melangkah tanpa adanya kekuatan otot. Kita tak akan pernah dapat menyelesaikan masalah kalau kita tidak mencari solusi untuk menyelesaikannya.

“Tidak akan ada yang dapat mempengaruhi kita untuk sebuah keyakinan, kecuali diri kita sendiri.”

Gambar
Persahabatan

Persahabatan bukanlah sekedar menjalin sebuah hubungan rasional. Yang didasari oleh kebutuhan sesaat, janji, kepentingan, kesepahaman atau subjektifitas, yang setelah dasar-dasar itu terlaksana atau terpenuhi lantas bubar begitu saja.

Persahabatan yang sesungguhnya adalah sebuah hubungan tetap, yang dilandasi oleh nilai-nilai luhur ketulusan, kejujuran dan kasih sayang yang mendalam. Seorang sahabat sejati akan selalu menjunjung tinggi dan mengedepankan persahabatannya diatas naluri keegoisan dirinya. Karena baginya sahabat adalah kaki, tangan, mata dan telinganya yang lain yang tidak melekat langsung dalam raganya, tapi ada dalam jiwanya.

Sahabat merupakan sebuah karunia yang patut kita. Syukuri dan jaga. Sebagaimana telah dicontohkan oleh Nabi kita Muhammad SAW. Ia yang seorang nabi saja tidak pernah mengenyampingkan para sahabatnya, apa lagi meninggalkan, baik dalam keadaan susah maupun senang. Bahkan musuh sekalipun tetap ia anggap sebagai sahabatnya.

“Sahabat yang sejati, ialah yang memperlakukan sahabatnya sebagaimana ia memperlakukan dirinya sendiri”.

–Kang Dakup–

Gambar

Mencapai kemampuan besar untuk membiayai kehidupan, dimulai dengan MELAKUKAN YANG PALING MUDAH bagi kita. Jika yang paling mudah sekarang adalah malas, maka malaslah.Jadilah pribadi yang tak berguna, atau tundalah, menunda yang penting. PERHATIKANLAH, semua kelemahan hidup selalu bersumber dari hal-hal baik yang kita tunda karena mengutamakan rasa malas.

Gambar

Kenapa mata kerap terpejam saat membayangkan?
Kenapa mata kerap terpejam saat menangis?
Adalah karena keindahan dalam hidup sesungguhnya tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, tapi lewat kejujuran hati dan penerimaan akal?

Kebahagiaan adalah impian dan harapan bagi setiap orang. Kebahagiaan tidaklah berada di pucuk gunung, di dasar laut,di tengah hutan atau langit. Sesungguhnya kebahagiaan tidaklah jauh dari manusia itu sendiri, karena ”kebahagiaan adalah bunga yg tumbuh mekar dari dlm hati kita sendiri”.

Bunga itu akan terus tumbuh dan berkembang jika kita tidak pernah sungkan untuk trus menyiraminya dengan air kesabaran, keikhlasan, kemudian memupuknya dengan kebersyukuran. Sebaliknya bunga itu akan layu bahkan mati jika kita tidak memeliharanya dengan baik. Hal yg paling membahayakan adalah ketika manusia memaksakan dirinya,hidupnya untuk bisa memiliki kebahagiaan yang sama dengan kebahagiaan yang dimiliki orang lain, ibarat kata kita menanam bunga mawar, tapi mengharap ia tumbuh menjadi bunga melati.

Karenanya, menjadi bahagia atau tidak bahagia adalah hak setiap manusia (seperti filosofi ayu ting ting), keduanya adalah pilihan yang ada di dalam diri kita masing2..

Hidup adalah diri kita, dan kebahagiaan ada didalamnya.jika kita ingin kebahagiaan itu, cari dan temukan dalam diri kita sendiri.

”kebahagiaan adalah bunga yang tumbuh mekar dari hati kita”

-Kang Dakup-

Gambar

Bila kita memandang diri kita kecil, maka dunia akan tampak sempit, tindakan kitapun mnjdi kerdil. Namun jika kita memandang diri kita besar, maka dunia ini terlihat luas, kitapun melakukan hal2 penting dan berharga.

Segala tindakan kita adalah cermin bagaimana kita melihat dunia. Sementara dunia kita tak lebih luas dari pikiran kita tentang diri kita sendiri. Itulah mengapa kita diajarkan utk berprasangka positif pada diri kita sendiri, agar kita bisa melihat dunia lebih indah, dan bertindak selaras dengan kebaikan2 yg ada dlm pikiran kita.

Sesungguhnya dunia ini tak butuh penilaian apapun dari kita. Ia hanya mensuarakan apa yg ingin kita dengar. Bila kita takut menghadapi dunia, sesungguhnya kita takut menghadapi diri kita sendiri.

Maka bukanlah soal apakah kita berprasangka positif atau negatif trhadap diri kita sendiri. Tp melebihi diatas itu, kita perlu jujur melihat diri sendiri apa adanya. Dan duniapun menampakkan realitanya yg selama ini tersembunyi di balik penilaian-penilaian kita.

-Kang Dakup-

Gambar

Bismillah..semoga blog ini memberi manfaat bagi sesama..

Either write something worth reading or do something worth writing
(Tulislah sesuatu yg layak dibaca atau lakukan sesuatu yg layak ditulis)

-Benjamin Franklin-